Jangan Benci Vuvuzela


Ini Piala Dunia pertama yang pertandingannya konstan diiringi suara lebah. Jutaan lebah. Mirip lalat juga. Bukan karena stadion letaknya dengan tempat pembuangan akhir sampah di Afrika Selatan, tapi bunyi dengung itu berasal dari vuvuzela, semacam terompet khas sana. Bahannya dari plastik.

Bunyinya sih tak beda jauh dari terompet yang biasa dipakai pendukung The Jak di sini. Tapi, ketika berbunyi berbarengan sestadion, suaranya luar biasa bising.

Nah, jadilah vuvuzela kontroversial. Ada yang bilang vuvuzela bisa merusak pendengaran, karena bunyi bising konstan menderu gendang telinga. Ada juga yang khawatir tak bisa mendengar pengumuman bila, amit-amit, stadion harus dievakuasi. Ruth MecNerney, dokter asal Inggris, kepada AP mengatakan vuvuzela berpotensi menyebarkan virus demam dan flu, “Mengingat banyaknya udara yang ditiupkan lewat vuvuzela,” kata dia.

Kebisingan vuvuzela juga bisa mengganggu pemain. Pelatih harus berteriak lebih keras ke anak-anak yang tengah merumput di lapangan. Tim Denmark misalnya, jadi tak bisa berkomunikasi. “Kami harus menggunakan kontak mata,” kata kiper Thomas Sorensen.

Kata Sorensen, apa pun yang ia teriakkan kepada para bek tak bisa terdengar. Bermain untuk Stoke City di Inggris, ia sudah terbiasa dengan kebisingan chant para pendukung. Tapi vuvuzela, wah beda lagi. Ah, mungkin itu sebabnya dua kali bola nyelonong ke gawangnya saat melawan Belanda.

Andres Iniesta menjajal vuvuzela.

Tapi, keinginan sejumlah pihak untuk menyingkirkan bahkan melenyapkan vuvuzela dari ritual Piala Dunia, setidaknya di Afrika Selatan, segera pupus. Dengan alasan vuvuzela adalah ikon sepakbola setempat, maka Presiden FIFA Sepp Blatter pun menegaskan menolak permintaan melarang vuvuzela.

Di sebuah wawancara, pemain tengah Spanyol Andres Iniesta diminta mencoba vuvuzela. Ragu-ragu, ia mencoba. Sudah siap ia mengumandangkan bunyi membahana kepada pemirsa televisi yang menanti-nanti dengan cemas (mungkin). Tapi hasilnya, bah, bunyi ‘ngok’ pun tak keluar.

Iniesta menyerah! Ia memulangkan si vuvuzela ke tangan pembawa acara, yang dengan mudah membunyikan vuvuzela. Sebagai seorang atlet dengan determinasi tinggi, Iniesta tentu mencoba untuk kedua kalinya. Pfhuuuuuttt!!! Lagi-lagi ia gagal.

Vuvuzela vs Iniesta? 2-0!

Foto:  Para pendukung meniup vuvuzela di pantai Durban, pada hari pertama gelaran Piala Dunia 2010. (JAVIER SORIANO/AFP/Getty Images)
From : Jangan Benci Vuvuzela, Yahoo Indonesia – Sport oleh Dodi Ibnu Rusydi

Mengenal Jabulani, Si Bola Terbundar untuk Piala Dunia


Jakarta – Diklaim sebagai bola paling bundar yang pernah dibuat, si kulit bundar untuk Afrika Selatan 2010 dinamai ‘Jabulani’. Bola produksi Adidas ini melanjutkan evolusi bola sepak.

Jabulani secara resmi diluncurkan di Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia 2010, Jumat (4/12/2009). Secara bersamaan, Jabulani juga diluncurkan di Jakarta dan tiga kota di Asia Tenggara lainnya, yakni Kuala Lumpur, Singapura dan Bangkok.

Di Jakarta, peluncuran resmi Jabulani digelar di Djakarta Theater, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, tepat pada tengah malam. Dibukanya selubung replika bola Jabulani berukuran raksasa dengan berat 200 kilogram oleh delapan penari yang mengenakan kostum tribal ala Afrika menjadi tanda resminya Jabulani hadir.

Jabulani menyusul 10 bola Adidas lain yang telah menjadi warna dari Piala Dunia yang lampau. Dalam rentang 40 tahun, bola sebagai bagian terpenting permainan terpopuler di dunia ini telah berkembang jauh menuju level yang belum terbayangkan.

Semuanya dimulai dengan Telstar, bola resmi Piala Dunia 1970 di Meksiko. Telstar merevolusi desain bola sepak karena dibuat dengan susunan panel-panel segi lima dan segi enam berwarna hitam dan putih.

Telstar kemudian berkembang jauh menjadi Telstar Durlast, The Tango, Tango Espana, Azteca, Etrusco Unico, Questra, Tricolore, Fevernova, Teamgeist dan terakhir Jabulani.

Tak ada lagi panel-panel segi lima dan enam dan warna yang cuma hitam putih. Kulit tidak lagi jadi bahan utama pembuatan benda yang jadi rebutan 22 pemain di lapangan ini, tapi telah berganti dengan bahan polyurethane.

Dari sisi bentuk, Jabulani diklaim sebagai bola terbundar yang pernah dibuat dan memiliki sejumlah keunggulan lainnya sehingga membuat si kulit bundar lebih stabil dan memiliki daya cengkeram sempurna dalam berbagai kondisi.

Perbaruan teknologi menjadi ‘jualan’ utama Adidas dalam setiap bola yang mereka buat untuk Piala Dunia.

Jabulani berarti ‘untuk merayakan’, diambil dari bahasa Bantu–salah satu bahasa resmi di Afsel. Desain bola ini sangat berwarna Afrika, dengan paduan 11 warna yang mencerminkan 11 pemain dalam satu tim, 11 suku serta 11 bahasa yang ada di Afsel.

Ujar-ujar lama mengatakan bahwa nama adalah doa. Berbekal keyakinan itu, Jabulani diharapkan bisa menjadi sesuatu yang menciptakan perayaan dan kegembiraan dalam setiap pertandingan.
(arp/a2s)

Sumber : Piala Dunia 2010 – Detik.Com
(http://pialadunia.detiksport.com/read/2010/01/04/065735/1270837/805/mengenal-jabulani-si-bola-terbundar-untuk-piala-dunia)